10 Nama Tokoh Quraisy Beserta Nasibnya Setelah Perang Badar


Perang pertama yang terjadi dalam sejarah umat Islam adalah Perang Badar (غزوة بدر) Tahun Terjadi: 17 Ramadan tahun 2 Hijriah (sekitar 13 Maret 624 M)Berlokasi: Lembah Badar, antara Madinah dan Makkah (sekitar 120 km dari Madinah) Setelah hijrah ke Madinah, kaum Muslimin sering diganggu dan dirampas hartanya oleh kaum Quraisy Makkah. Rasulullah ﷺ dan para sahabat berusaha mencegat kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan untuk mengambil kembali harta mereka yang dahulu ditinggalkan di Makkah. Namun, hal ini berkembang menjadi pertempuran besar karena kaum Quraisy mengirim pasukan untuk melindungi kafilah tersebut.




  • Pasukan Muslimin: ± 313 orang, 82 orang dari Muhajirin, 231 orang dari Anshar, 2 ekor kuda dan 70 unta
  • Pasukan Quraisy: ± 1.000 orang; 100 kuda, 600 baju besi lengkap, dan banyak perlengkapan perang

Pertempuran terjadi pada pagi hari 17 Ramadan.Walau jumlah pasukan Islam jauh lebih sedikit, mereka menang dengan pertolongan Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah menurunkan ribuan malaikat untuk membantu kaum Muslimin. (QS. Al-Anfal: 9–10)


اِذۡ تَسۡتَغِيۡثُوۡنَ رَبَّكُمۡ فَاسۡتَجَابَ لَـكُمۡ اَنِّىۡ مُمِدُّكُمۡ بِاَلۡفٍ مِّنَ الۡمَلٰۤٮِٕكَةِ مُرۡدِفِيۡنَ
Iz tastaghiisuuna Rabbakum fastajaaba lakum annii mumiddukum bi alfim minal malaaa'ikati murdifiin

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, "Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." (QS. Al-Anfal: 9)

وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشۡرٰى وَلِتَطۡمَٮِٕنَّ بِهٖ قُلُوۡبُكُمۡ‌ۚ وَمَا النَّصۡرُ اِلَّا مِنۡ عِنۡدِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيۡزٌ حَكِيۡمٌ
Wa maa ja'alahul laahu illaa bushraa wa litatma'inna bihii quluubukum; wa man nasru illaa min 'indil laah; innal laaha Aziizun Hakiim

Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS. Al-Anfal: 10)


Kematian Abu Jahal di Perang Badar

Pada pagi hari 17 Ramadan tahun 2 Hijriah, pasukan kecil kaum Muslimin — hanya 313 orang — berhadapan dengan ribuan pasukan Quraisy yang dipimpin oleh Abu Jahal bin Hisyam, musuh utama Rasulullah ﷺ. Abu Jahal berdiri gagah di tengah pasukannya.
Dengan sombong ia berkata lantang:

“Kita tidak akan kembali sebelum menghancurkan Muhammad dan pengikutnya! Hari ini kita akan membuat sejarah di Badar!”

Ia yakin kemenangan ada di tangannya, karena pasukannya jauh lebih banyak dan lengkap.

Di antara pasukan Muslimin ada dua pemuda Anshar yang masih belia:
Mu‘ādh bin ‘Amr bin al-Jamūḥ dan Mu‘ādh bin ‘Afra’. Keduanya mendekati sahabat Abdurrahman bin Auf رضي الله عنه dan bertanya:

“Wahai paman, di manakah Abu Jahal yang sering menghina Rasulullah ﷺ? Kami mendengar ia ada di sini. Demi Allah, jika kami melihatnya, kami tidak akan membiarkannya hidup!”

Ketika Abu Jahal terlihat di medan perang, keduanya langsung menyerang dengan keberanian luar biasa. Mu‘ādh bin ‘Amr bin al-Jamūḥ menebas kaki Abu Jahal hingga terjatuh dari kudanya. Namun Mu‘ādh pun terkena sabetan pedang hingga tangannya terkulai, tapi ia terus berjuang dengan tangan yang tersisa. Abu Jahal terkapar di tanah, terluka parah — namun belum mati.
Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه — yang dahulu pernah dihina oleh Abu Jahal di Makkah — pergi mencarinya di antara mayat Quraisy.
Ia menemukannya masih bernafas dengan sangat lemah. Bin Mas‘ud berdiri di atas tubuhnya, lalu berkata:

“Segala puji bagi Allah yang telah menghinakanmu, wahai musuh Allah!”

Abu Jahal yang sekarat masih sempat membuka mata, lalu dengan sombong berkata:

“Apakah kemenangan hari ini milik kalian, hai gembala kambing?”
Abdullah menjawab:
“Kemenangan hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian Abdullah membunuh Abu Jahal.


Berikut  10 Nama Tokoh Quraisy Beserta Nasibnya Setelah Perang Badar

1. Abu Sufyān bin Ḥarb

Abu Sufyan tidak ikut langsung dalam Perang Badar karena ia sedang memimpin kafilah dagang Quraisy yang menjadi sebab awal terjadinya perang. Setelah Quraisy kalah, Abu Sufyan justru tampil sebagai pemimpin utama Quraisy menggantikan Abu Jahal yang tewas di medan perang. Ia memimpin banyak perlawanan terhadap kaum Muslimin, termasuk dalam Perang Uhud dan Khandaq. Namun akhirnya, pada tahun 8 Hijriah, ketika Rasulullah ﷺ menaklukkan Makkah, Abu Sufyan masuk Islam dengan penuh hormat. Ia wafat di Madinah sebagai seorang Muslim.

2. ‘Ikrimah bin Abī Jahl

Ikrimah adalah putra dari Abu Jahal, musuh utama Rasulullah ﷺ. Ia ikut berperang di Badar dan berhasil selamat meskipun banyak rekan Quraisy tewas. Setelah itu, ia menjadi salah satu pemimpin perang Quraisy dalam beberapa pertempuran berikutnya. Namun setelah Fathu Makkah, Ikrimah sadar dan memeluk Islam dengan penuh penyesalan atas masa lalunya. Ia kemudian menjadi seorang pejuang Islam yang gagah berani dan gugur syahid dalam Perang Yarmuk.

3. Suhail bin ‘Amr

Suhail dikenal sebagai juru bicara Quraisy yang pandai berbicara. Ia ikut hadir dalam Perang Badar dan berhasil selamat. Beberapa tahun kemudian, ia berperan penting dalam Perjanjian Hudaibiyah, mewakili Quraisy untuk berdialog dengan Rasulullah ﷺ. Setelah penaklukan Makkah, Suhail masuk Islam dan menjadi orator Islam yang sangat berpengaruh. Ia dikenal karena kefasihan lisannya dalam menyeru kepada kebaikan.

4. Safwān bin Umayyah

Safwan adalah putra dari Umayyah bin Khalaf — salah satu tokoh Quraisy yang tewas di Badar. Ia sendiri ikut berperang dan berhasil melarikan diri. Setelah kekalahan itu, Safwan sangat dendam kepada kaum Muslimin. Namun beberapa tahun kemudian, setelah Fathu Makkah, Rasulullah ﷺ memberikan jaminan keamanan kepadanya. Hatinya pun luluh, lalu ia memeluk Islam dengan tulus dan berjuang di jalan Allah.

5. Hakīm bin Ḥizām

Hakim bin Hizam adalah keponakan dari Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Rasulullah ﷺ. Ia termasuk tokoh bangsawan Quraisy yang ikut Perang Badar namun selamat. Awalnya ia masih ragu terhadap Islam, tetapi setelah Fathu Makkah, ia memeluk Islam dengan sepenuh hati. Ia dikenal sebagai dermawan besar di masa Islam, banyak bersedekah dan berbuat baik hingga wafat dalam keadaan beriman.

6. ‘Amr bin al-‘Āṣ

Amr bin al-‘Āṣ adalah seorang diplomat ulung dan bangsawan Quraisy. Ia tidak ikut langsung dalam Perang Badar, namun menjadi bagian dari kelompok Quraisy yang menentang Islam setelahnya. Hatinya baru tersentuh setelah melihat akhlak Rasulullah ﷺ dan kekuatan Islam yang semakin besar. Ia kemudian memeluk Islam pada tahun 8 Hijriah bersama Khalid bin Walid. Setelah itu, ia menjadi panglima besar Islam yang menaklukkan Mesir dan wafat sebagai salah satu sahabat mulia.

7. Khalid bin al-Walīd

Khalid bin Walid belum ikut Perang Badar. Saat itu ia masih di pihak Quraisy. Namun pada perang-perang berikutnya, seperti Perang Uhud, ia menjadi panglima yang menyebabkan banyak korban dari pihak Muslim. Akan tetapi, setelah Fathu Makkah, Allah membukakan hatinya. Ia masuk Islam dan menjadi pahlawan besar Islam yang dijuluki "Saifullah" (Pedang Allah yang Terhunus).

8. Harith bin Hishām

Harith adalah saudara Abu Jahal. Ia ikut dalam Perang Badar namun berhasil selamat. Setelah kekalahan Quraisy, ia tetap memusuhi Islam hingga Fathu Makkah. Saat itu, ia akhirnya masuk Islam dan menebus masa lalunya dengan berjuang di banyak peperangan. Ia syahid di medan Yarmuk, melawan pasukan Romawi.

9. Umayyah bin Abī Ṣalt

Umayyah bin Abi Shalt dikenal sebagai seorang penyair dan tokoh cendekia Quraisy yang memiliki pengetahuan agama. Ia tidak ikut langsung dalam Perang Badar, tetapi sangat mengenal ajaran tauhid. Meskipun ia tahu kebenaran Islam, ia tidak mau mengakui kerasulan Muhammad ﷺ karena iri hati. Ia meninggal dalam keadaan kafir, padahal sering menyebut Allah dalam syairnya.

10. Mikraz bin Ḥafṣ

Mikraz adalah salah satu tokoh Bani Makhzum. Ia ikut serta dalam Perang Badar, namun berhasil melarikan diri dari kekalahan. Mikraz sempat beberapa kali diutus Quraisy dalam perundingan dengan kaum Muslimin. Setelah penaklukan Makkah, ia pun masuk Islam dan hidup dalam ketenangan hingga wafat.

Dari kisah para tokoh Quraisy yang selamat dari Perang Badar ini, tampak jelas bahwa hidayah Allah tidak mengenal masa lalu seseorang. Banyak dari mereka yang dulu memusuhi Rasulullah ﷺ, akhirnya menjadi sahabat, panglima, dan pejuang besar Islam.

Perang Badar bukan hanya tentang kemenangan di medan perang, tetapi juga tentang kemenangan iman atas kesombongan, serta bukti bahwa siapa pun bisa mendapat petunjuk Allah bila hatinya terbuka.

Posting Komentar

0 Komentar